Muak disimpan segan ditelan

Muak disimpan segan ditelan

Assalamualaikum Ayah dan Bunda,

Ayah dan Bunda, tak jarang kita tak mampu mengendalikan emosi ketika anak berperilaku nakal atau tidak patuh. Emosi ini muncul dalam bentuk kemarahan yang umumnya diungkapkan secara verbal melalui omelan atau berbicara dengan nada bicara yang tinggi dan suara keras, atau dengan hukuman fisik seperti mencubit, memukul, menjewer dan sebagainya (Novianti & Maria, 2019).  Nah… tentunya bila hal ini dilakukan terus menerus akan dapat mempengaruhi perkembangan anak.

Menurut Mahmud (2020) hal yang paling sering menyebabkan orang tua  melakukan  kekerasan, terutama   kekerasan   verbal   adalah   kenakalan   anak. Misalnya dapat kita amati pada anak usia 3 tahun yang sedang aktif-aktifnya mengeksplorasi berbagai hal yang ada di sekelilingnya, sehingga kita mengartikan perilakukan sebagai bentuk kenalakan. Hal yang terjadi adalah, ketika   anak memasuki usia 3 tahun, ia mengalami perkembangan emosi dan psikologis yang pesat. Hal ini terkadang membuatnya terlihat sangat aktif dan bersemangat.  Perlu diingat bahwa kenakalan anak pada usia 3 sampai 6 tahun merupakan hal yang wajar, karena ini merupakan masa dimana anak mempelajari lingkungan secara kreatif. Namun tak jarang orang tua melihat hal itu sebagai suatu hal yang mengganggu dan bila Ayah dan Bunda tak mampu mengendalikan emosi, maka respon yang muncul adalah memarahi ataupun menghukum anak.

Dalam jangka panjang kemarahan orang tua akan membuat anak tumbuh sebagai pribadi yang kasar, pemberontak, dan tak kooperatif. Karenanya melalui tunjuk ajar Melayu Riau, kita memperoleh bimbingan dan teladan dalam mendidik anak, di antaranya tergambar dalam ungkapan, “muak disimpan, segan ditelan.” Menurut Sabakti (2018) ungkapan ini mengandung makna bahwa saat mendidik dan mengasuh anak, orang tua mestilah pandai menyimpan rasa tak suka, benci, maupun enggan di dalam hatinya. Hal ini sekaligus mengajarkan bahwa hendaklah orang tua tidak cepat berputus asa dalam mendidik dan mengasuh anak.

Berkaitan dengan manajemen emosi, masyarakat Melayu berpedoman pada ajaran agama Islam yang tertuang dalam Al Quran dan hadis yang memang menjadi dasar dari Budaya Melayu. Dalam salah satu hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda,

Orang yang kuat bukanlah diukur dari kuatnya ia melawan, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan nafsunya ketika marah.”

Islam juga mengajarkan orang tua untuk menghilangkan perasaan benci pada anak apa pun yang dilakukan si anak dan bersabar menghadapi tingkah laku anak. Bila anak berperilaku yang tidak menyenangkan hati, maka mendidiknya tidak boleh dilakukan dengan membentak apalagi memukul, namun harus menasihati anak dengan penuh santun.

Karenanya, mari Ayah dan Bunda, kita amalkan ajaran Islam yang kemudian dijadikan tunjuk ajar masyarakat Melayu dalam bentuk ungkapan “muak disimpan, segan ditelan” ini, demi optimalnya perkembangan sosial emosional Ananda tercinta.

 

Referensi:

Effendy, T. (2014). Tunjuk Ajar Orang Melayu (Butir-butir Budaya Melayu Riau). Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.

Mahmud, B. (2020). Kekerasan verbal pada anak. AN-NISA: Jurnal Studi Gender Dan Anak12(2), 689-694.

Sabakti S. (2018). Konsep Pendidikan Karakter dalam Buku Pandangan Orang Melayu Terhadap Anak Karya Tenas Effendy. Widyaparwa.;46(2):189–204.