Menjadi Orang Tua yang Memahami Anak

Assalamualaikum Ayah dan Bunda,
Akhir-akhir ini kita mulai sering mendengar istilah toxic atau beracun yang dilekatkan pada perilaku seseorang, termasuk dalam perilaku orang tua. Orang tua toxic menciptakan lingkungan rumah yang negatif. Mereka menggunakan rasa takut, bersalah, dan penghinaan sebagai alat untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan memastikan kepatuhan dari anak-anak mereka. Mereka sering lalai, tidak memenuhi kebutuhan emosional anak, dan juga kasar (Townshend, 2016).
Hal ini berlawanan dengan konsep mindful parenting yang mengetengahkan konsep kesadaran penuh dalam konteks pengasuhan yang sedang berlangsung antara orang tua dengan anak, sehingga memfasilitasi Ayah dan Bunda untuk sabar, berempati, sekaligus memanfaatkan momen yang ada untuk menciptakan interaksi dan komunikasi yang positif (Saraswati& Febriani, 2018). Ajaran Melayu juga menyakatan bahwa:
Adat hidup berumah tangga
Tetapkan hati percayakan diri
Sadari keluarga Amanah Allah
Kalau tersia-sia mendapat bala
Di dunia hina di akhirat sengsara
Hal ini berarti orang tua perlu menyadari tugasnya dalam membina keluarga dengan sebaik-baiknya sebagai Amanah Allah SWT. Dengan kesungguhan orang tua untuk meluangkan waktu sebaik-baiknya dengan anak, maka akan lebih mudah memahami dan menerima perilaku mereka. Di sanalah kemudian timbuh cinta kasih dan empati orang tua terhadap anak yang akan menjadi dasar dari terbentukanya pengasuhan yang positif dan terhindar dari perilaku toxic.
Referensi
Effendy, Tenas. 2015. Tunjuk Ajar Melayu. Dinas Pendidikan Provinsi Riau bekerja sama dengan Tenas Effendy Foundation.
Saraswati, W., & Febriani, Z. (2018). Hubungan antara mindful parenting dengan gaya pengasuhan pada ibu yang memiliki anak usia 3-6 tahun. Jurnal Psikogenesis, 6(2), 214-222.
Townshend, K., Jordan, Z., Stephenson, M., & Tsey, K. (2016). The effectiveness of mindful parenting programs in promoting parents’ and children’s wellbeing: a systematic review. JBI Evidence Synthesis, 14(3), 139-180.