Karakteristik orang yang berperan terbuka

Ayah dan Bunda, tahukah bahwa berpikir terbuka atau open-mindedness mengacu pada penerimaan terhadap ide-ide lain dan pengalaman baru, sementara berpikiran tertutup atau close-mindedness melibatkan pemikiran yang jauh lebih kaku dan penolakan untuk mempertimbangkan kemungkinan lain (Riggs, 2010).
Keterbukaan pikiran melibatkan penerimaan terhadap berbagai macam ide, argumen, dan informasi. Berpikiran terbuka umumnya dianggap sebagai kualitas positif. Hal ini diperlukan untuk berpikir kritis dan rasional. Keterbukaan pikiran juga dapat melibatkan mengajukan pertanyaan dan secara aktif mencari informasi yang menantang keyakinan Anda. Ini juga mencakup keyakinan bahwa orang lain harus bebas untuk mengekspresikan keyakinan dan argumen mereka, bahkan jika Anda tidak selalu setuju dengan pandangan tersebut (Spiegel, 2012).
Tunjuk Ajar Melayu membantu kita memahami bagaimana karakter orang yang berpikiran terbuka sesuai dengan nilai-nilai Budaya Melayu:
adat hidup orang berbudi hati bersih dan tahu diri
adat hidup orang berilmu tahu diri beraih malu
adat hidup orang beriman tahu diri perangai pun sopan
adat hidup orang terbilang tahu diri dada pun lapang
adat hidup orang terpuji tahu diri elok pekerti
adat hidup orang terpandang tahu diri pikiran panjang
adat hidup orang bertuah tahu diri hati pun rendah
Dari ungkapan tersebut kita dapat memahami bahwa seseorang haruslah menjaga hatinya dan perilakunya, serta berpikir panjang dalam menghadapi permasalahan dan tunyutan kehidupan
Selanjutnya menurut Weenink (2008), secara umum orang tua yang berpikiran terbuka memiliki karakteristik:
- Meluangkan waktu untuk mengobrol dengan anak
- Menanyakan apa pendapat anak
- Terbuka terhadap keinginan anak untuk mencoba sesuatu yang baru
- Berempati terhadap perasaan dan pemikiran anak
- Menjadikan pendapat anak masukan dalam pengambilan keputusan keluarga
- Mengakui dan mengapresiasi kemampuan dan keunikan anak
- Meyakini bahwa anak berhak mengutarakan pendapat dan memiliki keinginannya sendiri
Bagaimana, apakah Ayah dan Bunda sudah punya karakteristik tersebut? Mari kita sama-sama berusaha menjadi orang tua yang berpikiran terbuka.
Referensi
Weenink, D. (2008). Cosmopolitanism as a form of capital: Parents preparing their children for a globalizing world. Sociology, 42(6), 1089-1106.
Riggs, W. (2010). Open‐mindedness. Metaphilosophy, 41(1‐2), 172-188.
Spiegel, J. S. (2012). Open-mindedness and intellectual humility. Theory and Research in Education, 10(1), 27-38.