Cara Menerapkan Disiplin pada Anak

Assalamualaikum Ayah dan Bunda.

Apakah Ayah dan Bunda sudah mencoba menerapkan disiplin pada Ananda? Hal ini tentunya sangat penting karena disiplin menjadi salah satu kunci keberhasilan Ananda di waktu yang akan datang. Penerapan disiplin pada anak dapat dilakukan sesuai dengan tahap perkembangannya. Berikut adalah beberapa cara yang bisa Bunda dan Ayah terapkan untuk mengembangkan kedisiplin anak, yaitu:

1. Ajarkan Anak Rutinitas Harian

Mengajarkan anak rutinitas sehari-hari dapat membantu anak memahami bahwa ada kegiatan dan aturan yang perlu ia ikuti. Misalnya meminta anak untuk memasukkan pakaian kotornya ke dalam keranjang cucian atau memintanya untuk membereskan mainan setelah selesai bermain. Melalui rutinitas harian ini, akan tumbuh rasa tanggung jawab dan keterampilan manajemen diri pada anak.

2. Komunikasikan Aturan yang Ingin Diterapkan

Komunikasi yang baik sangat penting agar anak memahami apa dan bagaimana yang harus ia lakukan terkait aturan yang berlaku di keluarga. Sebagai mana ungkapan Melayu “Keras dalam Lunak” maka orang tua perlu berbicara dengan lemah lembut pada anak, karena anak akan lebih mudah menangkap pesan dari orang tua dalam situasi yang tidak menekan dan menyenangkan.

Bila anak sudah paham, maka perilaku disiplin yang diharapkan pada anak dapat mulai terbentuk dan juga ia dapat meneladani cara komunikasi orang tua yang jelas dan bertutur kata lemah lembut pada siapa saja.

3. Berikan Reward

Apabila Ananda mengikuti aturan yang Ayah dan Bunda terapkan, maka ini saatnya memberikan reward atau hadiah sebagai penghargaan atas apa yang dia lakukan. Pemberian hadiah ini akan membuat anak merasa bahwa apa yang dilakukannya selama ini tidak sia-sia dan akan mengulangi perilaku yang diharapkan dengan mengikuti aturan yang ada dalam keluarga.

4. Berikan Konsekuensi Bila Anak Melanggar Aturan

Bila ananda melakukan kesalahan atau melanggar peraturan yang berlaku, maka Ayah dan Bunda dapat memberikan konsekuensi yang sesuai. Tentunya tidak berupa hukuman fisik maupun verbal seperti omelan. Tapi bisa dalam bentuk larangan untuk melakukan hal yang disukai anak untuk sementara waktu. Konsekuensi yang dipilih juga dapat didiskusikan pada anak terlebih dulu sehingga ia akan memahami mengapa ia tidak boleh melakukan kegiatan tertentu atau larangan lainnya

Semoga dengan demikian, Ananda tidak mengulangi lagi pelanggaran atau kesalahan yang telah diperbuat.

5. Ajarkan Anak untuk Berempati

Empati merupakan kemampuan untuk merasakan dan memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Hal ini dapat dikembangkan pada anak misalnya ketika anak melakukan kesalahan, karena mengambil mainan teman tanpa izin, maka Ayah dan Bunda dapat menyampaikan pada Ananda bahwa temannya pasti akan sedih karena mainannya diambil, lalu ajak ia untuk meminta maaf dan berbaikan dengan temannya tersebut.

Sakit ke diri awak, tentulah sakit ke diri orang

 

Demikian ungkapan Melayu yang menggambarkan kondisi di mana anak perlu belajar mengembangkan empati, bahwa apa yang dia rasakan, akan sama dengan apa yang dirasakan oleh orang lain. Nah, jika empati anak telah tumbuh, ia akan dapat memahami perasaan orang lain yang telah dirugikannya dan memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu sebelum melakukan hal yang tidak baik.

Referensi

Hamon, R. R., & Smith, S. R. (2014). The discipline of family science and the continuing need for innovation. Family Relations63(3), 309-322.

Sabakti S. (2018). Konsep Pendidikan Karakter dalam Buku Pandangan Orang Melayu Terhadap Anak Karya Tenas Effendy. Widyaparwa.;46(2):189–204.