Penguatan Malu yang Berdasarkan Dengan Iman

Assalamualaikum Ayah dan Bunda,
Ayah dan Bunda, dalam keluarga sudah seharusnyalah Ayah, Bunda, dan anak-anak semuanya hidup akur dan saling menyayangi. Dalam Tunjuk Ajar Melayu, agar terhindar dari pertengkaran dan pertikaian terutama dalam keluarga, kita perlu menanamkan rasa malu kepada Allah SWT, sehingga kita akan terhindar dari perbuatan dosa, karena sifat malu tersebut mengantarkan pelakunya kepada kebaikan.
Berikut adalah ungkapan Melayu terkait hal tersebut:
yang disebut malu elok
malu berbuat tidak senonoh
malu bertengkar membuat gaduh
malu bekerja tidak semenggah
malu bekerja tidak menyudah
malu bekerja tidak berfaedah
malu bekerja tidak amanah
malu melanggar perintah Allah
malu menyimpang dari sunnah
malu menyalahi adat lembaga
malu menghabiskan harta pusaka
malu bercakap menggulung lidah
malu berjalan melintang langkah
malu duduk berbantah bantah
malu tegak sunggah menyunggah
malu berumah tidak berpenanggah
malu bertanam tidak berbuah
malu menipu malu memfitnah
malu menyombang besar kepala
malu hidup termakan sumpah
malu melanggar janji setia
Dalam keluarga, orang tua perlu mengembangkan rasa malu pada dirinya sendiri dan pada diri anak. Tapi jangan salah, bukan rasa malu yang diartikan sebagai tidak percaya diri atau yang berkonotasi negatif, tapi rasa malu yang muncul karena keimanan. Bila Ayah dan Bunda memiliki rasa malu untuk berkonflik dalam rumah tangga, maka akan terhindar dari saling berbantahan dan berbagai perilaku yang tak baik dalam keluarga. Rumah tangga pun menjadi tenang serta harmonis. Sedangkan menurut Solihah & Asikin (2021), rasa malu yang berkembang di dalam diri anak akan melindungi mereka dari melakukan berbagai hal yang tercela sejak usia dini yang akan membentuk kepribadian mereka di kemudian hari
Referensi
Effendy, T. (2014). Tunjuk Ajar Orang Melayu (Butir-butir Budaya Melayu Riau). Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.
Solihah, I., & Asikin, I. (2021). Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Terkait Keutamaan Rasa Malu dalam Kitab Adab Riyadhush Shalihin. Jurnal Riset Pendidikan Agama Islam, 57-62.