Gaya Pengasuhan Yang Mengembangkan Kreativias Anak

GAYA PENGASUHAN YANG MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK
Perilaku orang tua yang berbeda dalam membesarkan anak membuat gaya pengasuhan atau praktik pengasuhan anak yang berbeda. Gaya pengasuhan mewakili hubungan emosional dan kualitas kedekatan orang tua dengan anak-anak mereka yang sangat penting dalam proses pembelajaran dan perkembangan anak-anak (Moradian, Alipour, Shahani-Yeylagh, 2014).
Menurut Baumrind terdapat tiga gaya pengasuhan yakni otoritatif, otoriter dan permisif. Gaya pengasuhan otoritatif dikaitkan dengan penerimaan dan hubungan kasih sayang, serta teknik kontrol dan kemandirian yang tepat. Gaya otoriter memiliki tingkat penerimaan dan hubungan orang tua dan anak yang tidak begitu dekat, di mana orang tua mengawasi anak dengan ketat dan anak kurang diberi kebebasan. Sementara orang tua dengan gaya pengasuhan permisif berperilaku baik dan ramah pada anak, tidak banyak memiliki harapan pada anak, dan hanya tidak begitu mengawasi perilaku anak-anak mereka. Orang tua seperti itu mengizinkan anak-anak mereka, pada usia berapa pun, bahkan ketika mereka tidak mampu membuat keputusan apa pun, untuk memutuskan apa pun yang mereka suka (Moradian, et al., 2014).
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Mehrinejad, et al (2015) gaya pengasuhan otoritatiflah yang dapat membantu meningkatkan kreativitas anak. Hal ini terjadi karena orang tua dengan gaya pengasuhan otoritatif memantau dan membimbing anak dalam berperilaku, memprioritaskan kebutuhan dan kemampuan anak, mendorong kemandirian anak, mengajak anak berdiskusi dalam suasana yang hangat dan penuh perhatian, serta melibatkan mereka untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan.
Sebuah ungkapan Melayu Riau terkait hal ini dikenal dengan “Diberi Bergelanggang” yang dijelaskan sebagai berikut:
Lidah diberi gelanggang cakap
Tangan diberi tempat menjangkau
Kaki diberi jalan melangkah
Duduknya tidak terpuruk
Tegaknya tidak tersundak
Langgangnya tidak terpepas
Ungkapan ini bermakna bahwa anak perlu diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihan yang patut baginya. Hal ini penting bagi pengembangan jiwa dan bakat anak, serta tentunya dapat diakomodir oleh pengasuhan otoritatif. Kalau sudah begini, jangan ragu lagi Ayah dan Bunda, ayo kita kembangkan gaya pengasuhan otoritatif dengan belajar berkomunikasi aktif dan terbuka dengan anak dan menghargai pencapaian serta pendapat mereka agar kreativitas dapat tumbuh subur pada diri Ananda tercinta.
Referensi
Effendi, Tenas. 2004. Tunjuk Ajar dalam Pantun Melayu. Yogyakarta: Adicita Karya Nusantara
Hasanzadeh, R., & Imanifar, P. (2011). The relationship between creativity and self-esteem and academic achievement of adolescents and youth, Journal of Professional Sociology, 1, 55-65.
Mehrinejad, S. A., Rajabimoghadam, S., & Tarsafi, M. (2015). The relationship between parenting styles and creativity and the predictability of creativity by parenting styles. Procedia-soci
Moradian, J., Alipour, S., & Shahani- Yailagh, M. (2014). The causal relationship between parenting styles and academic performance mediated by the role of academic self- efficacy and achievement motivation in the students. Journal of Family Psychology, 1, 63-74