Sabar dalam mengasuh anak

Assalamulaikum Ayah dan Bunda,
Semua orang pasti pernah merasa kecewa. Kita pun sebagai orang tua juga demikian. Misalnya Ketika anak melakukan sesuatu diluar dari apa yang diharapkan. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita mengelola rasa kecewa tersebut? Apakah kita mampu bersikap sabar, atau langsung melampiaskan kekecewaan tersebut? Dalam ajaran Melayu, kita diminta untuk dapat menahan emosi:
Sungguh elok berbatang lebar
Tidak Nampak basah kuyupnya
Sungguh elok orang penyabar
Tidak nampak susah hidupnya
Ungkapan ini sangat berhubungan dengan peran ayah dan Bunda dalam mengasuh anak. Setiap hari selalu ada tantangan yang dihadapi karena perilaku anak yang semakin cerdas dan selalu ingin mencoba hal yang baru. Kecewa itu biasa, tapi jangan sampai dibiarkan mengganggu perasaan kita. Caranya adalah dengan berperilaku asertif.
Perilaku asertif adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain secara jujur dan terbuka dengan tetap menghormati hak pribadi orang lain (Seyrdowleh et al., 2014). Bila orang tua menghadapi perilaku anak yang tidak diinginkan, maka selain bersabar, maka langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah mengomunikasikan apa yang Ayah dan Bunda rasakan kepada anak dengan terbuka namun tidak dengan ekspresi kemarahan. Ajak anak berbicara dengan tenang dan buat ia mengerti bahwa perilakunya membuat Ayah dan Bunda kecewa atau marah, lalu arahkan anak untuk tidak mengulangi perilaku yang sama di kemudian hari
Referensi
Effendy, Tenas. 2015. Tunjuk Ajar Melayu. Dinas Pendidikan Provinsi Riau bekerja sama dengan Tenas Effendy Foundation.
Seyrdowleh, G., Barmas, H., & Asadzadeh, H. (2014). Comparison of pupils’ social skills and assertiveness with parenting styles. Int J Educ Appl Sci, 1(3), 147-52.