Jangan Berlebihan Memanjakan Anak

Assalamualaikum Ayah dan Bunda,
Bukankah kita sering melihat orang tua yang menuruti segala keinginan anak untuk membuat anak merasa senang? Atau Ayah dan Bunda juga termasuk orang tua yang akan segara memenuhi kemauan anak sebagai bentuk ungkapan kasih sayang? Ternyata Budaya Melayu Riau juga memiliki nilai-nilai terkait kasih sayang pada anak ini:
Yang kasih berpada-pada
Yang sayang berhingga-hingga
Kasih tidak membutakan
Sayang tidak memekakkan
Bila kita pahami ungkapan tersebut, maka kasih sayang pada anak harus ada batasnya agar anak tidak rusak karena kasih sayang yang berlebih-lebihan atau yang kita kenal dengan memanjakan anak. Delay gratification atau menunda kepuasan menurut Mischel (1970) merupakan sebuah kemampuan untuk menunda sesuatu yang dapat didapatkan secara instan pada saat ini untuk meraih sesuatu yang lebih diinginkan di masa mendatang. Memiliki kemampuan ini dipercaya dapat berpengaruh terhadap masa depan anak yang lebih baik.
Bahkan menurut Zayas et al (2014) anak-anak yang mampu menunda kepuasan, kelak akan mempunyai kelebihan dibandingkan anak-anak yang selalu memproleh instant gratification atau kepuasan secara langsung, yakni anak yang terlatih menunda kepuasan akan memililiki kemampuan akademik dan sosial-emosional yang lebih baik, mampu berpikir rasional, lebih mampu berkonsentrasi, lebih terencana dan resilien (tangguh menghadapi masalah).
Karenanya Ayah dan Bunda, bila kita tak ingin anak tumbuh menjadi anak yang berjiwa lemah, kehilangan kreativitas, tergantung pada orang lain dan selalu menuntut karena kebiasaan kita memanjakan mereka, mari terapkan delay gratification secara disiplin.
Referensi
Effendi, Tenas. 2004. Tunjuk Ajar dalam Pantun Melayu. Yogyakarta: Adicita Karya Nusantara
Mischel W. 1970. Attention in delay of gratification. Journal of Personality and Social Psychology.
Zayas, V., Mischel, W., & Pandey, G. (2014). Mind and brain in delay of gratification.